Waktu seakan melambat, membiarkan setiap ingatan melintas dalam sabar yang halus. Tujuh puluh satu hari, bagi sebagian orang mungkin hanyalah sekumpulan angka di atas kalender. Namun bagiku, itu adalah bentangan waktu yang membungkus harapan yang setiap saatnya tumbuh kembali. Aku kalah dengan jarak...
Siapa Kamu?
Masih seperti biasanya, aku terjaga di waktu-waktu yang tak biasa. Tengah malam telah lewat, tapi fajar pagi masih terlalu lama untuk membelah langit kali ini. Aku hanya membuka mata, sambil kudekap bantal yang entah kenapa bisa disini. Aku bermimpi...
Aku berjalan di ruang labirin yang kosong, sebelumnya aku berlari hingga terengah-engah. Entah dikejar, entah mengejar.. Entah sesuatu, entah seseorang... Aku terhenti dan terdiam sejenak, saat mendapati sebuah ruang. Kuingat warnanya agak abu-abu, cahayanya pun agak redup, tetapi semua begitu tenang...
Aku berjalan pelan, tapak demi tapak yang terdengar hanya suara langkah kakiku sendiri. Ada yang istimewa, di ruangan selanjutnya penuh dengan titik-titik air yang tertahan di udara. Banyaknya seperti air hujan, tetapi waktu terhenti hingga tetes-tetes itu tak pernah sampai ke permukaan tanah. Melayang... Sesekali kusentuh titik-titik air itu. Ya Allah, damai sekali...
Kulangkahkan kakiku lagi, menyusuri lorong-lorong yang sepi itu, hingga akhirnya kutemukan sebuah ruangan yang sedikit berbeda, meski juga terdapat titik-titik air yang melayang, kulihat ruangan itu begitu cemerlang dengan cahaya yang kadang berkilauan.
Aku masih sendiri, dan kudapati sebentuk tangga. Ya Allah, ada apa Engkau bawa aku kesini? Seakan tak tahu apa yang harus dilakukan, aku duduk... Di tangga itu.
Aku masih bermain dengan pikiranku, sejurus kemudian.. Ada seorang anak kecil menghampiri dan menyusul duduk di tangga itu. Hanya memandangku, dan duduk di sebelahku. Lirih, anak kecil itu menyapaku..."Bang..."
Aku masih diam dan kulihat wajahnya, aku hanya melihatnya tersenyum. Entah kapan terjadinya, di ujung ruangan sana... Kedua orang tuaku berdiri di tepi pintu dan juga tersenyum. Ya Allah... Di ruangan ini, ternyata yang kucari adalah orang tuaku dan adikku...
Bang...
Hari ini hari ke-71 ketika peluru itu melukai lu, dan sampai hari bisa dibilang gua agak kesulitan berkomunikasi dengan lu, tapi gua paham bang... Paham banget, selain karena lu perlu recovery, lu juga berada di keadaan yang tidak mudah. Tapi... Di keheningan seperti apapun, gua selalu doakan lu, dan biarlah gua tulis ini kesekian kalinya...
Bang...
Seperti biasanya, gua hanya menunggu kabar dari lu. Seperti biasanya, gua selalu perbarui harapan ini untuk gua langitkan. Masih lekat, gua duduk dan gua biarkan space kosong ini. Ya suatu saat nanti, anak kecil itu akan duduk disana.
Adek nemu...
Sini duduk sejenak, ada yang ingin gua sampaikan... Meski gua terbata-bata, kesulitan hendak menuliskan apa, tapi sini bang... sejenaklah ke sebelah gua.
Lu, bagaimana keadaan bang? Lu membaik kan? Gua, apa ada salah bang? Jujur, gua nunggu banget kabar lu.
Masih sama...
Meski gua tahu, gak pernah semudah itu menyerah. Tapi gua juga tau bahwa keadaan sana tidak pernah mudah. Baik-baik disana bang, jaga diri dan kesekian kalinya juga gua selalu mendoakan semoga Allah senantiasa melindungi.. Gua tak keberatan jika harus berdoa lebih lama dari biasanya, tapi itu layak untuk orang sebaik dan sehebat lu... Gua, sayang sm adek gua bang...
Meski gua tahu, gak pernah semudah itu menyerah. Tapi gua juga tau bahwa keadaan sana tidak pernah mudah. Baik-baik disana bang, jaga diri dan kesekian kalinya juga gua selalu mendoakan semoga Allah senantiasa melindungi.. Gua tak keberatan jika harus berdoa lebih lama dari biasanya, tapi itu layak untuk orang sebaik dan sehebat lu... Gua, sayang sm adek gua bang...
Menunggu kabar lu, dari rumah.
Abangmu.
0 Komentar