Waktu seakan melambat, membiarkan setiap ingatan melintas dalam sabar yang halus. Tujuh puluh satu hari, bagi sebagian orang mungkin hanyalah sekumpulan angka di atas kalender. Namun bagiku, itu adalah bentangan waktu yang membungkus harapan yang setiap saatnya tumbuh kembali. Aku kalah dengan jarak...
Siapa Kamu?
Masih seperti biasanya, aku terjaga di waktu-waktu yang tak biasa. Tengah malam telah lewat, tapi fajar pagi masih terlalu lama untuk membelah langit kali ini. Aku hanya membuka mata, sambil kudekap bantal yang entah kenapa bisa disini. Aku bermimpi...
Aku berjalan di ruang kosong, yang semula terengah-engah mengejar sesuatu atau entah seseorang... Hingga aku terdiam mendapati sebuah ruang. Penuh dengan uap air, penuh dengan titik hujan, tetapi seperti waktu yang terhenti titik-titik itu tak pernah sampai ke permukaan tanah. Aku tapaki pelan-pelan, sesekali kusentuh titik air yang melayang itu. Ya Allah, damai sekali..Aku masih berjalan pelan... Hingga pada akhirnya, aku dipertemukan dengan ruang yang sama, penuh dengan titik air yang melayang tak pernah sampai ke tanah, tetapi cemerlang dengan cahaya berwarna dan 2 anak tangga. Aku duduk disana... Seperti menunggu semua orang yang kusayang untuk datang... Saat yang sama, aku tahu siapa yang kucari... My parents and you... :(
Selamat malam bang, setidaknya waktu disana menunjukkan sekitar pukul 21:10 sekarang. Hari ini, menginjak hari ke-71 pascatragedi yang terakhir, dan jika boleh mengingatnya lagi hari ini sudah mulai meinginjak bulan ke 23 gua kenal lu bang.
71 hari ini, bisa dibilang gua agak kesulitan berkomunikasi dengan lu, tapi gua paham bang... Paham banget, selain karena lu perlu recovery, lu juga berada di keadaan yang tidak mudah. Tapi... Di keheningan seperti apapun, gua selalu doakan lu... Adek nemu.
Bang...
Seperti biasanya, gua hanya menunggu kabar dari lu.
Seperti biasanya, gua selalu perbarui harapan ini untuk gua langitkan.
Masih lekat, gua duduk dan gua biarkan space kosong ini.
Ya suatu saat nanti, anak kecil itu akan duduk disana.
Adik... Sini duduk sejenak, ada yang ingin gua sampaikan... Meski gua terbata-bata, kesulitan hendak menuliskan apa, tapi sini bang... sejenaklah ke sebelah gua.
Lu, bagaimana keadaan bang? Lu membaik kan?
Adek nemu, sini duduk sejenak...Ada yang kangen dengan keberisikan lu bang. Meski gua baca makanan dan obat sudah lumayan. Tapi bisa jadi lu masih sedang menghadapi rasa nyeri, mungkin sedang menghadapi hal-hal yang membahayakan, menghadapi takdir yang entah masih tak diketahui setiap detiknya. Tapi bang, sejauh ini... hingga detik ini, lu gak berubah di mata gua.
Lu tetaplah orang yang membanggakan, lu tetaplah orang yang tak pernah mengecewakan, dan... lu adalah orang yang layak mendapatkan doa-doa terbaik dari semua orang. Jangan lelah ya bang, tetaplah baik-baik disana. Jangan lelah ya bang, jaga apa yang berharga. Priceless bang, jaga adek gua.
Mario dengan segala kebadungannya. Sini bang, gua bisikin... Sehat-sehat disana ya bang. Pada akhirnya, gua tetap menunggu lu disini untuk saling bercerita... Gua, sayang adek gua bang. (emote hormat, bingung gua nyarinya).
Peluk jauh dari rumah,
Abangmu.
0 Komentar