Dini hari ini udara begitu sejuk, setidaknya jauh lebih sejuk dibanding kemarin-kemarin. Mendung menutup sebagian besar langit yang bisa kupandang. Benar saja, sejurus kemudian rintik hujan mulai berjatuhan. Ya Allah, izinkan aku meminta...
Siapa Kamu?
Untuk seseorang yang kurindukan, untuk seseorang yang tak pernah lelah berjuang... Someone priceless, Adik.
Bang, sebenernya judul dan satu paragraf tersebut sudah gua tulis sebulan yang lalu. Ketika seorang anak kecil itu kelelahan, drop, dan beberapa hari kemudian harus terluka. Tepatnya 36 hari yang lalu, 23 September. Tetapi entahlah serasa tertahan, seakan kalimat yang ingin tulis terkesan melompat-lompat.
Adik... Lu gimana keadaan bang? Disini waktu menujukkan pukul 00.10 Wita, dini hari memang tetapi seakan mata ini masih enggan untuk terpejam. Di kepala gua masih diisi oleh orang yang sama, di dalam hati gua pun masih mengucap doa untuk orang yang tidak berbeda. Seseorang yang gua kenal 15 bulan lalu, yang sekarang masih tegar di ujung langit sana.. Sekarang entah apa yang dilakukannya, adek nemu yang belum bisa kutemui... Lu.
Kemarin, nafas ini terasa ringan dan lega, sebuah pesan yang selalu gua tunggu akhirnya menyapa di pagi itu. Ya, pesan dari adek gua bang.
Beberapa kalimat ini, mungkin sudah berkali-kali lu temui, tapi percayalah... Gua selalu dengan energi baru untuk orang-orang yang gua sayangi. Gua selalu mau adek nemu ini selalu baik-baik saja...
Adik... Kesekian kalinya mengingat lu menyadarkan bahwa betapa gua harus bersyukur karena di hidup gua lu dikirimkan. Lu, benar-benar menjadi seseorang yang istimewa. Lu, benar-benar menjadi seseorang yang tak terukur harganya...
Adik... Sini, duduk sebentar. Bolehkan gua merindukan lu untuk sejenak? Gua gak tahu, lu seberapa lelah. Yang gua tahu, lu gak mudah menyerah. Sini, duduk sebentar bang... Biarkan raga kecil itu sejenak gua temani, sebelum lu bawa untuk mengabdi kembali.
Pikiranku melayang entah kemana. Berasa banyak hal yang ingin gua sampaikan, berasa banyak hal yang ingin gua denger dari lu. Lagi dan lagi, keinginan gua hanya ingin duduk dengan adek gua. Meskipun hanya untuk diam, meskipun hanya untuk saling menenangkan, meskipun hanya untuk saling mendengarkan.
Benar, lu istimewa.. tentang lu gak bisa dituliskan dengan kata-kata. Allah kasih lu, membuat gua menyadari beruntungnya gua nemu lu. Sebahagia ini bang... Meski gak jarang gua khawatir keberadaan dan keadaan lu, dan kesekian kali gua mengikuti kata hati bahwa lu akan semaksimal menjaga diri..
Bang... Lu tahu kan rasanya "gak mau orang yang disayang kenapa-kenapa?"
Terima kasih, terima kasih sudah sehebat ini. Terima kasih, sudah sekuat dan sebaik ini. Terima kasih ya Allah... dikasih hati semulia ini.
Sungguh, gua merindukan adek kecil gua bang. Hanya untuk duduk, hanya untuk bercerita...
Sungguh, gua merindukan sekali adek kesayangan gua bang. Hanya untuk menepuk bahunya yang lelah..
Bang...
Lekas pulih, lekaslah membaik. Jaga diri, jaga adek gua ya bang...
Gua sayang sama adek gua bang, sayang banget. Gua tunggu disini bang, gua tunggu kapanpun lu siap untuk kesini.. Gua tunggu di rumah...
Suatu saat nanti, boleh kan bang? Gua mau duduk bareng lu...
Suatu saat nanti, boleh kan bang? Gua ingin bercerita dan mendengar banyak hal yang mungkin kita ulangi dari masa lalu.
Suatu saat nanti, boleh kan bang? Gua ingin menghabiskan sedikit waktu dengan adek kecil gua...
Sekali lagi jaga diri ya bang, semoga selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.
Sekeping rindu dari rumah,
Abangmu.

0 Komentar