Berita atau informasi HOAX (dibaca ho:x) merupakan masalah yang serius, tetapi tidak disadari oleh banyak kalangan. Bahkan, praktisi atau elit profesional banyak yang menyebarkan berita hoax tersebut. Bukan tanpa alasan, kurangnya wawasan terhadap hal yang ditemuinya atau penilaian pribadi yang menganggap berita itu 'benar' secara tidak langsung mengarahkan orang tersebut untuk menyebarkan berita hoax.
Bahaya berita hoaxpun kita sudah tahu, karena ini 'menyerang' dari dalam dan identik dengan fitnah. Peredaran berita hoax lebih berbahaya lagi jika orang yang dianggap panutan malah bertindak sebagai pihak menyebarkan. Misalnya orang tua kepada anak-anaknya atau keluarganya, guru kepada murid-muridnya, atasan dengan bawahannya. Ya, bukan sengaja tetapi karena efek yang terjabar dalam paragraf pertama tadi bisa jadi menjadi penyebabnya.
Sebaliknya, hoax pun malah harus dibaca! Bukan jangan dibaca, tetapi bacalah dengan tanpa kecurigaan, karena dengan membacanya kita bisa mengetahui hal tersebut hoax atau tidak. Caranya bagaimana? Kenali berita hoax, berdasarkan informasi dari humas POLRI, berita hoax biasanya:
- Berupa artikel yang menggugah perasaan dan emosi berlebihan. Seakan-akan yang dimuatnya benar tak terbantahkan.
- Apabila memuat gambar, biasanya menarik pembaca untuk melihatnya serta terkesan provokatif.
- Hal yang dihoaxkan seakan-akan baru saja terjadi.
- Sumber berita tidak jelas, tidak berani mencantumkan nara sumber atau nara sumber terkesan fiktif.
- Berita mengandung unsur diskriminatif, tahu diskriminatif khan? Mendukung satu pihak, menjatuhkan pihak lain.
- Informasi dipotong atau ditambahkan sehingga telah berubah esensi hal yang sebenarnya.
Saya sebagai pelaku IT menggarisbawahi terhadap point ke-4 dari kriteria berita hoax yang dilansir dari humas POLRI tersebut. Ini sangat benar dan orang awam biasanya terjebak dari sumber yang mengatasnamakan internet atau alamat situs. Perlu kita ketahui, alamat situs bisa diregistrasi oleh siapapun, tidak semua situs tervalidasi apalagi situs dengan TLD (top level domain) yang bersifat internasional.
TLD yang dapat dipertanggungjawabkan adalah TLD dengan domain .id (.co.id, .or.id, dll), walaupun TLD tervalidasipun belum tentu memiliki artikel yang benar dan valid. Jadi, kriteria acuan sumber dari internetpun tidak bisa sembarangan untuk dikatakan 'benar'. Situs yang 'besar' dan dikelola dengan baik, serta memiliki registrar yang jelas lah yang dapat dipercaya.
Nah, semoga hal tersebut bisa menjadi bahan pengetahuan kita apabila kita memperoleh berita, BC (broadcasting)-an, informasi atau artikel lain yang beredar.
0 Komentar