Jum'at... Sedikit kuinjak pedal di kaki kananku, membelah jalanan dengan titik-titik air hujan yang mulai membasahi kaca di depanku. Sesekali kupandang layar ponsel itu, berharap berbunyi, berharap ada notifikasi. Sedikit tersenyum aku melihatnya, meski sejurus kemudian aku menepi. Aku terdiam sejenak, aku termangu... Dan, dia ada di kepalaku.
Siapa Kamu?
Lebih dari 9.000 km, jarak ini seakan belum berkurang. Waktu pun tak mau kalah, mengiring jarak seakan masih panjang yang harus ditapak. Tak terasa angka telah menunjuk ke bilangan 149, hari pertama aku mengenal sosok itu. Meski ku tak melihat langkahya, tetapi ku tahu persis kemana arah mata anginnya. Gaza, Barat Laut dari sebuah kota yang merindukannya. Biarkan kali ini aku berusaha menepis jarak dan waktu. Dari Tenggaramu, biarkan kali ini aku menjangkaumu. Untuk seseorang yang sekarang mungkin sedikit lelah, untuk seseorang yang sekarang duduk hening di benakku.... Someone priceless, aku memanggilnya... Adik.
Bang...
Lu lagi apa bang? Gimana keadaan lu bang? Ya, mungkin gua bertanya hal yang sama setiap hari. Jangan bosan ya bang, ada harapan yang selalu gua perbaharui saatnya dari pertanyaan itu. Jangan bosan ya bang, ada doa yang tak terucap ikut mengangkasa bersama harapan yang terbarui saat itu.
Gua menulis ini, masih tercatat hari Jumat, tanggalnya pun masih 13 Februari. Lu tahu kan besok hari apa bang? Di gua sih hari Sabtu. Gak usah ngadi-ngadi, lu kira hari apa? Hehehe...
Lu lagi apa bang? Gimana keadaan lu bang? Ya, mungkin gua bertanya hal yang sama setiap hari. Jangan bosan ya bang, ada harapan yang selalu gua perbaharui saatnya dari pertanyaan itu. Jangan bosan ya bang, ada doa yang tak terucap ikut mengangkasa bersama harapan yang terbarui saat itu.
Gua menulis ini, masih tercatat hari Jumat, tanggalnya pun masih 13 Februari. Lu tahu kan besok hari apa bang? Di gua sih hari Sabtu. Gak usah ngadi-ngadi, lu kira hari apa? Hehehe...
Sini bang, peluk jauh dulu. Sini bang, izinkan gua sapu sedikit lelahmu.. Bang, gak apa-apa kan kalau gua merindukan adek gua saat ini?
Sini, biarkan gua dekat dengan tubuh lelah itu. Tubuh lelah yang telah menempuh banyak hal, tubuh lelah yang telah melewati banyak cerita. Kali ini, boleh kan aku menggandengnya? Biarlah, itu adek gua bang...
Adek nemu...
Sini, duduk sejenak di sebelah gua. Hanya duduk, mungkin mendengarkan desir angin yang nyaris tak tertangkap indera kita. Hanya merasakan embusannya menyapu permukaan kulit wajah kita. Hanya diam, dan mungkin hanya tersenyum satu sama lainnya. Imajinasi itu selalu menjadi yang paling melekat di kepala gua. Entahlah, seakan-akan dunia bisa berhenti berisik jika hal itu terjadi...
Bang..
Sini, duduk sejenak di sebelah gua. Mungkin hanya menyeduh air teh hangat, dan mengaduknya terus-terusan meski tanpa gula. Hanya duduk, dan memainkan sendoknya karena kita saling kehabisan kata. Gak apa-apa, gua akan tetap bahagia karena setidaknya gua melihat adek gua baik-baik saja.
Adek nemu...
Sini bang, gua ingin sedikit berbisik. Membisikkan omongan-omongan yang gak pernah penting, membisikkaan obrolan-obrolan yang lebih banyak tak ada maknanya. Seperti yang telah kita lakukan setiap harinya. Tak pernah penting, tak ada maknyanya... Tapi, itu berharga bang buat gua..
Sini bang, gua ingin sedikit berbisik. Membisikkan omongan-omongan yang gak pernah penting, membisikkaan obrolan-obrolan yang lebih banyak tak ada maknanya. Seperti yang telah kita lakukan setiap harinya. Tak pernah penting, tak ada maknyanya... Tapi, itu berharga bang buat gua..
Adek nemu, terima kasih untuk apapun sampai detik ini. Entah atas nama siapa gua berterima kasih, tapi lu terbaik, lu gak pernah mengecewakan.
Masih panjang perjalanan...
Meski banyak hal yang telah dilewati, masih banyak pula masa depan yang mungkin belum kita ketahui. Bang, peluk dulu, peluk seeratnya... Gua gak akan biarkan adek gua sendirian, meski jauh biarkan gua memeluk dengan doa-doa gua ya bang. Sini peluk bang, adek kesayangan gua ulang tahun... Adek kesayangan gua sudah 28 tahun, sini bang peluk... Biarkan gua melangitkan doa terbaik untuk anak kecil yang membanggakan ini. Sini bang peluk saja, lu tetep bocil gua apapun keadaannya.
Selamat Ulang Tahun ya bang... Selamat Ulang Tahun, Adek Nemu...
Sehat-sehat terus disana yak, baik-baik terus disana. Semoga Allah senantiasa melindungi, memberi keselamatan, dan kekuatan lebih buat lu kapanpun dan dimanapun. Semoga Allah mempermudah segala urusannya... Aamiin...
Suatu saat nanti pulang ya bang... Gua, sayang sama lu.
Sehat-sehat terus disana yak, baik-baik terus disana. Semoga Allah senantiasa melindungi, memberi keselamatan, dan kekuatan lebih buat lu kapanpun dan dimanapun. Semoga Allah mempermudah segala urusannya... Aamiin...
Suatu saat nanti pulang ya bang... Gua, sayang sama lu.
Dari yang merindukanmu, dari yang ingin menepuk bahumu, dari menitip hatinya di adek sendiri, dari yang menunggu di rumah... Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun Adek Kesayangan... (yang kelakuan kek tai)
Maaf gua gak bisa ngasi apa-apa bang... Hanya tulisan ini..
Abangmu,

0 Komentar